September 22, 2012

Bergerak dari yang Nyata: Realisme, Emansipasi dan Sosialisme

Tanggapan Terhadap Muhammad Al-Fayyadl

Dalam tulisannya di IndoProgress yang berjudul ”Bergerak dari Titik Perbatasan,”[1] Muhammad Al-Fayyadl memproblematisir penafsiran Martin Suryajaya atas Derrida dalam bukunya, Materialisme Dialektis. Setelah itu, Al-Fayyadl masuk ke dalam persoalan emansipasi. Menurutnya, emansipasi mensyarakatan adanya kemustahilan. Dan realisme―karena tulisannya adalah tanggapan atas buku Martin, maka saya anggap yang dimaksud realisme oleh Al-Fayyadl adalah realisme Marxis―tidaklah memadai bagi emansipasi. Dalam tulisan ini, saya tidak akan memproblematisir interpretasi Al-Fayyadl atas Derrida, karena saya tidak menguasai pemikiran Derrida. Yang hendak saya problematisir di sini adalah pendapat Al-Fayyadl soal emansipasi yang mensyaratkan kemustahilan dan tidak memadainya realisme.