October 2, 2013

Produktivitas Buruh Meningkat, Upah Riil Stagnan

--------------------------------------------------------------------------------

Catatan: Tulisan ini kurang tepat, karena membandingkan produktivitas nominal dengan upah riil. Seharusnya, upah riil dibandingkan dengan produktivitas riil, dan bukan produktivitas nominal. Untuk tulisan yang mengkoreksi tulisan ini dan membandingkan produktivitas riil dengan imbalan riil buruh, lihat "Produktivitas Riil dan Imbalan Riil Buruh".

--------------------------------------------------------------------------------

Menjelang akhir tahun, kaum buruh kembali disibukkan oleh perjuangan kelas paling dasar untuk menentukan upah minimum di tahun berikutnya. Saat ini, mereka menuntut kenaikan upah minimum 2014 sebesar 50% dan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta Rp3,7 juta. Seperti biasa, para pemodal pun menentang tuntutan kenaikan upah dari buruh dengan berbagai alasan.

Salah satu alasan yang biasa dipakai dan membuat citra buruh buruk, adalah produktivitas yang rendah. Apa yang dimaksud dengan produktivitas di sini adalah kemampuan tenaga kerja untuk menghasilkan barang produksi. Alasan itu jelas omong kosong. Kalau kita lihat data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), produktivitas tenaga kerja industri Indonesia selama 2001-2010 cenderung meningkat. Peningkatannya juga cukup besar, yaitu sekitar 199%. Data rincinya bisa dilihat dalam Tabel 1 dan visualisasinya bisa dilihat dalam Grafik 1:

Tabel 1
Produktivitas Tenaga Kerja Industri Indonesia
2001-2010 (Juta Rupiah)

Sumber: BPS, "Produktivitas Tenaga Kerja, 2001-2010 (Juta Rupiah)," http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=09&notab=5.

Grafik 1
Produktivitas Tenaga Kerja Industri Indonesia
2001-2010 (Juta Rupiah)

Sumber: Dibuat berdasarkan BPS, "Produktivitas Tenaga Kerja, 2001-2010 (Juta Rupiah)," http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=09&notab=5.

Ironisnya, ketika produktivitas tenaga kerja meningkat, upah riil (nilai upah berbanding harga-harga barang) cenderung stagnan. Ini bisa kita lihat juga dari data BPS tentang rata-rata upah riil buruh industri Indonesia di bawah mandor (supervisor). Sekalipun sempat ada lonjakan di akhir tahun 2010, tetapi lonjakan itu hanyalah fluktuasi jangka pendek saja. Kecenderungan upah riil buruh industri selama 2007-2011 adalah stagnan. Data rincinya bisa dilihat dalam Tabel 2 dan visualisasinya bisa dilihat dalam Grafik 2:

Tabel 2
Rata-Rata Upah Riil Buruh Industri Indonesia di Bawah Mandor (Supervisor), 2007-2011 (IHK 2007=100)

Sumber: BPS, "IHK dan Rata-rata Upah per Bulan Buruh Industri di Bawah Mandor (Supervisor) Indonesia, 2007-2012 (IHK 2007=100)," http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=19&notab=6.

Grafik 2
Rata-Rata Upah Riil Buruh Industri Indonesia di Bawah Mandor (Supervisor), 2007-2011 (IHK 2007=100)

Sumber: Data BPS, "IHK dan Rata-rata Upah per Bulan Buruh Industri di Bawah Mandor (Supervisor) Indonesia, 2007-2012 (IHK 2007=100)," http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=19&notab=6.

Lalu, apa arti data di atas? Artinya, kontribusi buruh bagi perekonomian Indonesia cenderung meningkat, tetapi upah yang diterima buruh cenderung stagnan. Karenanya, kaum buruh Indonesia layak untuk mendapatkan kenaikan upah saat ini. Mari kita sama-sama dukung Mogok Nasional untuk memenangkan kenaikan upah minimum 2014 sebesar 50% dan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta Rp3,7 juta!

2 comments:

  1. "@TribunRakyat: Kenaikan Upah Minimum 50% TERLIHAT RASIONAL,untuk INDUSTRI PAKAIAN,TEKSTIL&SEPATU Artinya PHK MASSAL! - Tribun Rakyat http://tribunrakyat.com/?p=2103"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perhitungan saya memang agregat Bung. Tetapi, kalau ada sektor yang tidak sanggup, itu bukan berarti tuntutan kenaikan upah 50% kita turunkan. Namun, kita tuntut negara untuk mensubsidi sektor yang tidak sanggup itu agar sanggup. Negara harus bertanggungjawab atas kesejahteraan rakyatnya, termasuk kaum buruh.

      Delete