January 11, 2015

Marxisme dan Problem Relativisme

Relativisme pernah dan masih menjadi bagian dari iklim intelektual kiri di Indonesia. Posisi relativis menyatakan bahwa setiap posisi tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Yang ada hanyalah posisi-posisi yang berbeda. Konsekuensinya, setiap posisi harus bisa mentolerir posisi lainnya. Tidak boleh ada posisi yang mengalahkan posisi lainnya. Dan jika ada satu posisi yang mendesakkan dirinya, maka posisi itu akan dikritik sebagai totalitarian.

Relativisme seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, relativisme berwatak kritis, karena anti-finalitas kebenaran. Namun, di sisi lain, relativisme membunuh kritik, karena kritik bersifat evaluatif dan selalu mengandaikan adanya kebenaran. Kita hanya bisa mengritik sesuatu sebagai salah jika sesuatu itu tidak sesuai dengan kebenaran yang kita pegang. Tanpa memegang suatu kebenaran, kita tidak bisa melancarkan kritik. Pertanyaannya, bagaimana paradoks ini bisa dipecahkan? Dan apakah Marxisme itu relativis?

Dua Konsep Relativitas

Roy Bhaskar (2005), seorang filsuf realis kritis, memecahkan paradoks ini dengan membedakan dua konsep relativitas. Pertama, konsep “relativisme penilaian” (judgemental relativism). Konsep ini menyatakan bahwa semua posisi tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Dengan kata lain, konsep ini menolak adanya dasar untuk menilai suatu gagasan itu benar atau salah.

Konsep relativisme penilaian sebenarnya membantah dirinya sendiri. Pasalnya, jika tidak ada dasar apapun untuk mengatakan suatu posisi benar atau salah, lantas kenapa kita harus menerima konsep relativisme penilaian itu sebagai benar? Bukankah dengan menerima konsep relativisme penilaian, kita sebenarnya mengakui adanya sesuatu yang benar? Konsekuensi logis dari relativisme penilaian adalah sejenis solipsisme: tidak ada yang benar, kecuali konsep relativisme penilaian itu sendiri.

Konsep relativitas yang kedua adalah konsep “relativitas epistemik” (epistemic relativity) yang mengakui semua gagasan terbentuk secara sosial-historis. Artinya, tidak ada gagasan, termasuk kriteria kebenaran, yang berdiri di luar masyarakat dan sejarah. Dan karena masyarakat berkembang, maka gagasan yang benar pada saat tertentu, bisa saja tidak benar lagi di saat lainnya—misalnya, jika ada temuan baru yang membantah gagasan tersebut. Ini berarti kebenaran gagasan cenderung bersifat sementara.

Meski gagasan memiliki batasan historis, itu tidak berarti tidak ada kebenaran yang bisa valid pada momen historis tertentu. Artinya, perbandingan antar berbagai posisi ilmiah dan politik dalam satu momen historis tertentu dimungkinkan. Namun, relativitas epistemik tetap menolak finalitas kebenaran. Konsep relativitas epistemik sendiri, sama seperti gagasan lainnya, merupakan produk sosial-historis, dan karenanya, hanya bisa diterima di bawah kondisi historis tertentu. Jika suatu waktu nanti, umat manusia menemukan adanya “kenyataan tanpa sejarah,” maka konsep relativitas epistemik kehilangan validitasnya.

Marxisme: Absolutisme atau Relativisme?

Bagaimana dengan Marxisme? Marxisme sering dianggap, baik oleh penentang maupun penganutnya, sebagai absolutisme. Apa yang saya maksud dengan absolutisme di sini adalah posisi yang mengakui finalitas-kebenaran. Menurut hemat saya, Marxisme anti-absolutisme!

Tidak sulit untuk melihat hal ini. Metode Marxisme adalah materialisme dialektika historis dan metode itu mengakui bahwa gagasan merupakan produk sosial-historis. Karena kenyataan terus berkembang dalam sejarah, maka gagasan yang di saat tertentu valid, bisa tidak valid di saat lainnya. Marxisme sendiri merupakan produk sosial-historis yang hanya valid di bawah kondisi historis tertentu.

Sikap anti-absolutisme Marxisme bisa dilihat dari kritik Engels (1987) atas Eugen Karl Dühring, seorang pemikir sosialis Jerman, dalam Anti-Dühring. Gagasan Dühring bersifat obsesif. Ia menganggap sistem filsafatnya telah merengkuh prinsip-prinsip totalitas kenyataan. Bagi Engels, mustahil ada pengetahuan yang bisa menangkap totalitas kenyataan. Pasalnya, jika pengetahuan manusia bisa mencapai tahap “absolut” seperti itu, maka tidak akan ada lagi perkembangan sejarah lebih lanjut. Dan ini absurd.

Menurut Engels, tiap pengetahuan tentang kenyataan selalu dibatasi oleh kondisi historis serta konstitusi fisik dan mental si pemikir. Meski demikian, pengetahuan selalu berkembang tanpa akhir, sehingga keterbatasan pengetahuan di suatu momen akan dilampaui oleh pengetahuan yang lebih maju di momen lain, dan demikian seterusnya ad infinitum.

Jadi, Marxisme anti-absolutisme. Tetapi, Marxisme juga anti-relativisme penilaian. Artinya, bagi Marxisme, tetap ada kebenaran yang bisa dipegang di momen historis tertentu. Dan karena ada pegangan ini, maka kritik atas kapitalisme dan imajinasi tentang emansipasi dari kapitalisme atau masyarakat berkelas menjadi dimungkinkan.

Namun, pegangan ini juga dikondisikan oleh situasi sosial-historis. Adanya kriteria-kriteria kebenaran ilmiah, seperti korespondensi antara kenyataan dengan pikiran, koherensi logis, dan sebagainya, merupakan produk sosial-historis. Begitu pula dengan kriteria etis seperti perkembangan bebas manusia. Ini semua bukan kebenaran yang berada di luar masyarakat dan sejarah.

Dengan demikian, Marxisme mencakup relativitas epistemik. Implisit dalam konsep relativitas epistemik Marxis adalah gagasan tentang kemajuan. Tidak ada pengetahuan yang sempurna dalam momen historis tertentu, selalu ada keterbatasan. Namun, keterbatasan ini bisa dilampaui dengan pengetahuan yang lebih maju di momen historis lain, dan demikian seterusnya ad infinitum.

Namun, ranah pengetahuan bukanlah ranah yang otonom dari ranah lain dalam masyarakat. Perkembangan pengetahuan dikondisikan oleh perkembangan kekuatan produktif dan relasi-relasi sosial-produksi dalam masyarakat. Dalam epoh kapitalisme, alat-alat produksi ilmu pengetahuan relatif dikuasai oleh kelas kapitalis. Karenanya, pengetahuan masih berada di bawah kekangan kapital.

Untuk bisa lebih maju, pengetahuan perlu dibebaskan dari kapital. Perkembangan pengetahuan menuju “kebenaran yang lebih tinggi,” dengan demikian, mensyaratkan penghancuran kapitalisme. Dan karena yang bisa menghancurkan kapitalisme hanyalah proletariat atau rakyat pekerja, maka perkembangan pengetahuan mensyaratkan perkembangan gerakan rakyat pekerja. Dengan kata lain, pencapaian kebenaran yang lebih tinggi mensyaratkan emansipasi rakyat pekerja.

No comments:

Post a Comment